PENALARAN IKRAR DUA KALIMAH SYAHADAH

Oleh
Atep Mastur

Dasar pemikiran

Pembahasan ini di picu oleh suatu realitas kehidupan muslim yang tertinggal jauh dari peradaban dunia yang sudah sangat maju, padahal jaminan bagi muslim di dalalm kitabulloh begitu tinggi. Maka perlu dicari akar penyebab ketertinggalan itu. Penulis menemukan kejanggalan dalam pelaksanaan syariat islam di rukun pertama yaitu syahadah.

1. Penetapan kemusliman sejak di alam rahim (alam Ruh)

Dari kalangan penyampai generasi terdahulu, menyatakan bahwa manusia telah syahadah di alam ruh di dalam perut ketika ditiupkan ruh diawal kejadian. Logiskah hal tersebut? Benarkah secara hukum, secara syari’at?

a. Awal kejadian, adalah berupa air mani belum ketemu ovum (indung telur), setelah bertemu pun baru janin (alam gila) belum disebut manusia. Ketika lahir ke bumi pun tidak tahu apa-apa (Q.S. 16 an-Nahl 78). Padahal ikrar syahadatain adalah sebuah perjanjian yang hanya bisa ditempuh oleh manusia berakal, baligh, merdeka, pilihannya sendiri, dan dilakukan secara sadar dengan ilmu (nalar yang benar), artinya ikrar itu adalah untuk orang Islam, yang merasa islam dan mengaku islam, dan bukan bagi yang menolak islam.

b. Bayi dalam kandungan, bahkan sudah lahirpun, sebelum baligh belum menerima taklif syariat pokok sekalipun. Ikrar dua kalimah syahadatain adalah gelaran hukum, berarti si pelaku (subyek hukum) telah memiliki kemampuan tindakan hukum. Bayi tidak memilikinya.

c. Penerjemahan dalam bahasa Indonesia, surat al-A’raf 172 ditemukan ketidaktelitian, sehingga terjadi penyimpangan yang jauh. Empat rukun Islam: Haji, Shaum, Zakat, Sholat diamalkan di alam dunia, alam Syahadah. Ironis sekali rukun pertama, dinamai syahadah diamalkan di luar alam syahadah, padahal sama-sama rukun Islam. Kalimat Robbbuka diterjemahkan Tuhan (Ilah), min bani adama min dhuhurihim dzurriyatahum (semestinya diartikan "dari sebagian keturunan Bani Adam, para pemukanya dan keturunan yang dekat”) ini menunjukan keturunan yang terpimpin, dhohir/dhuhur artinya nyata, jelas bukan alam ruh. Wa asyhadahum artinya si pemimpin mereka yang telah dijadikan oleh Robb mengambil kesaksian mereka terhadap dirinya. Dan itu bukan dua kalimah syahadah (asyhadu anla ilaha allalloh wa asyhadu anna muhammadar rosululloh). Kalimah alastu bi Robbiikum diartikan: "bukankah aku ini Tuhanmu?". Padahal hakekat lafad, menunjukan : "bukankah aku dengan Robbmu?". Ini menggambarkan bentuk hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpinnya dengan tekanan meyakinkan, bahwa diri pemimpin itu sama-sama beriman kepada Allah, maka yang dipimpinnya menjawab dengan kesaksian: qolu bala syahidna (kami menjadi saksi), ini adalah pernyataan penerimaan atas kepemimpinan akan pemuka-pemuka mereka (dhuhurihum).

2. Penetapan kemusliman di dalam sholat

Dua kalimah syahadah bersatu dalam tasyahud awal dan tasyahud akhir. Berarti rukun Islam ke-1 disimpan dalam rukun ke-2, jadi menghitung dimulai 0 loncat ke-2.

a. Menghitung mulai 0 2 3 4 5 6 7 8 9 0, maka tidak bisa membuat angka 10, karena tidak pernah menulis angka 1, agar deret hitung itu sempurna maka mengitung secara normal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 dst.

b. Pemahaman masuk Islam dengan ikrar syahadat dalam sholat berarti menghilangkan salah satu rukun Islam, yaitu yang pertama. Jadi rukun Islam hanya empat, diawali dari sholat, zakat, shaum, dan haji. Empat rukun mengandung syarat dan rukun, jadi syahadatpun demikian. Tahukah syarat dan rukun syahadah? Salah satunya niat. Apakah dalam tasyahud, niat masuk Islam? Kalau pakai niat dalam tasyahud, berarti dalam setiap rakaat masuk Islam. Konsekuensinya sekian kali juga diawali dengan murtad (keluar dahulu baru masuk lagi). Jelas ini keluar dari syari'at.

c. Awal yang di hisab pada hari kiamah berkaitan dengan amal hamba Allah adalah sholat : Hadits itu bukan ditujukan pada manusia tapi pada abdi Alloh, hanya sholat abdi Allah yang di hisab, sholat manusia tidak. Manusia mulai jadi abdi Alloh ketika taslim secara sadar dihadapan syahid yang sah. Nilai sholat manusia dewasa dan berakal tetapi belum menegakkan syari'at syahadatain dengan benar adalah sama dengan sholat anak tujuh tahun atau sepuluh tahun. Pendidikan sholat tujuh sampai sepuluh tahun selanjutnya memasuki usia dewasa, sebutlah lima belas tahun, usia merdeka, baligh, berakal (berilmu), dan telah menemukan syahid yang sanggup mempertanggungjawabkan dan membimbingnya, ditegakanlah syari'at taslim ikrar syahadatain. Maka penegakan sholat bukan latihan lagi, tetapi penghadapan ruh dan jasad kepada Dzat Ilahi Robbbi.

3. Islam artinya selamat (salam), berarti juga tangga (sulam)

Jawabannya menggambarkan tangga titian/tingkatan Islam adalah pertama iklar dua kalimat syahadat, penegakan sholat, penyebaran zakat, shaum ramadhan, dan kelima menunaikan haji ke baitullah Mekah. Jadi tangga pokok syari'at Islam itu ada lima. Mari buat perumpamaan membuat tangga 3 Meter dengan lima titian ; berarti jarak antar titian 60 cm. Bila titian kesatu dihilangkan langsung ke titian kedua berarti 120 cm dst, akan mengalami kesulitan bahkan menjadi mustahil bisa menaikinya, coba tangganya dibuat lebih tinggi misal 5 M. Tangga dibuat untuk kemudahan mencapai ketinggian tertentu, dan hanya tangga yang lengkap tentunya yang bisa memberikan kemudahan. Demikianlah status dan fungsi titian syari'at pertama, ikrar dua kalimat syahadat dengan benar. Agar dapat menegakkan sholat dengan benar, dan seterusnya agar hidup ini mencapai martabat yang tinggi sebagaimana telah dijanjikan dalam Al-Qur'an yang agung. Hanya dengan tertib hukum bisa mencapai kualitas hidup yang dihormati di dunia dan hanya dengan tertib syari'at amal ibadah dapat diterima. Jaminan dan keutamaan ibadah yang sudah di janjikan dalam kitabullah menjadi tertahan karena tidak tertib syari'at (non prosedural) cacat syari'at, tidak lengkap syari'at bahkan keluar dari syari'at yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

4. Islam seperti bangunan

Bagian yang satu dengan bagian yang lainnya saling menguatkan, syahadat adalah pondasinya. Hubungan antara Islam dengan Iman, dan hubungan Islam dengan Ihsan di dalam Q.S. Ibrahim 24-25 laksana pohon yang baik ; akarnya terhunjam kuat didalam tanah (Iman) batangnya tegak menjulang kelangit (Islam) dan dari dahan dan rantingnya mengeluarkan buah setiap musimnya (Ihsan). Hari ini sudah menjadi pengetahuan publik, bahwa kalimah toyyibah adalah Laillahhaillalah atau disebut pula kalimah tauhid. Secara operasional kalimah thoyyibah itu ditanamkan ke dalam hati itu dengan lafadz ضر ب (Dloroba), seperti layaknya manusia menanam pohon/tanaman dengan menggali lubang, menancapkan dan memadatkan bahkan memagarinya agar tumbuhan baik tak terganggu. Begitu pula Allah menegaskan Islam dengan pertumbuhan yang sistematis: 1) ikrar dua kalimah syahadah dihadapan seorang saksi yang sah dimisalkan dalam bagian pohon dapurnya (dasar pohon) tempat "6 akar Iman" tertumpu pada dapurnya itu. Di atas dapuran syahadah tumbuh. 2) Sholat 3) Zakat. 4) Shaum dan 5) Haji. Dan dari setiap bagian batang pohon Islam itu menjulur dahan dan ranting, daun rindang dan buah yang matang dan lezat. Itulah Ihsan. Dampak hukum tidak melengkapkan rukun pertama (syahadat) maka hubungan antara Iman-Islam-Ihsan itu menjadi tiada; yang ada adalah hapalan pengetahuan tentang tiga konsep itu. Dan penggambarannya seperti pohon yang tumbang: tertebas dari dapurnya. (al-Haj 25) pelaksanaan sholat, zakat, shaum, dan haji hanya sebagian batang Islam yang tumbang tidak hidup lagi, terpotong-potong menjolor tumpang tindih, lapuk, jadi sampah, mudah-mudahan tidak menjadi fitnah penabur busuk di mata dunia. Gambaran di atas akan lebih parah bila akar ada di dalam tanah pun dibongkar. Selama akar tertanam mudah-mudahan tumbuh tunas baru yang segar, merekah menyambut cahaya hidayah.

5. Islam dalam penerimaan masyarakat Indonesia

Islam dalam pengetahuan masyarakat Indonesia dibuktikan secara kultural, politik, lembaga keagamaan dan pendidikan, bahkan bukti administratif yang ditandatangani camat berupa KTP. Unsur-unsur pendukung ke-Islaman di atas sangat positif, sebab bagaimanapun Islam secara syari'at akan mudah ditegakan. Jadi secara emosional dan kultural, mayoritas rakyat Indonesia adalah Islam. Maka langkah berikutnya adalah memasuki tatanan syari'at. Bila dukungan budaya, politik, lembaga pendidikan dan keagamaan telah memberikan kematangan individual, berjiwa tenang dan berakal cerdas, pasti pengikraran dua kalimah syahadah kemusliman itu menjadi mudah, sebab menjadi abdi Allah adalah panggilan. Berdasarkan firman Allah al-Fajr 26,27-30, Ali Imran 83, Syahadah dengan benar merupakan bukti telah terjadinya tali perikatan dengan Allah dan Rasul-Nya dan diberikannya berbagai jaminan dalam al-Qur'an yang Agung (Ali Imran 103) dan setelah itu menjadi ummah yang menyeru kepada kebaikan (kualiatas hidup pilihan), berurusan dengan ma'ruf (yang dikenal) dan mencegah diri dari berbuat munkar sehingga tercapailah kebahagiaan (Ali Imran 104).

Penulis adalah Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum Islam Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

70th HARI PAHLAWAN

Oleh
Atep Mastur

17 Agustus lahir Indonesia dari hasil para pahlawan pejuang kemerdekaan, baik yang gugur maupun yang masih hidup. Begitu berarti perjuangan mereka atas kemerdekaan negeri ini, sebab kemerdekaan itu merupakan syarat diterimanya kemusliman. Sangat layak dan pantas mereka secara hukum diposisikan di sisi Alloh sebagai mujahid, sebagai syuhada. Jaminan di dalam kitabulloh adalah hidup di baetal makmur dan mendapat rezeki yg fantastis(rizkun ma’lumun), sebuah amal yang besar niscaya memberi manfaat yg sangat besar di dunia ini, terutama bagi ahli warisnya.

Benarkah hal ini trbukti? Dalam realistas negeri yang sudah merdeka? Dimanakah wahai para putra putri pahlawan berada?

Hanya dalam waktu 4 bulan setelah proklamasi, kemerdekaan itu kemudian diuji. Maka, 10 November 1945 menjadi tonggak kedua berdirinya negeri ini. Harta, jiwa, dan darah tertumpah disaat itu. Lagi-lagi perjuangan para mujahid yang masih hidup diwujudkan, lalu mereka menjadi syuhada, gugur di medan perang.

70 th berjalan, kita hanya bisa mengenang, tertunduk malu, betapa tak sebanding antara yg dikorbankan dan diraih oleh negeri ini. Ketentraman, ketenangan, keamanan, kesejahteraan,serta kemakmuran tercipta untuk kelangsungan generasi bangsa yg besar ini, anak kecil pun bertanya-tanya, mestikah lahir para “pahlawan” baru? Yang memiliki ruhul jihad memberi pada negeri ini, bukan untuk mengambil dari negeri ini untuk diri, dan melemparnya ke negeri luar, sebagaimana terjadi pada bencana dan malapetaka kebakaran hutan.

Tanah yang luas dan subur di pulau besar di serahkan kepada pengusaha luar. Pembakaran hutan disikapi oleh pemimpin negeri ini hanya sebagai kejahatan biasa. Padahal, itu sangat jauh lebih besar dari teror bom dan politik, belum lagi kerusakan alam oleh pengusaha luar di bidang pertambangan. Sehingga nampak nyata di pelupuk mata, bahwa para pengusaha makan kakap, rakyat makan asap, penguasa makan suap dan wakil rakyat menguap. Yang ahirnya kita hanya bisa berdoa untuk para pahlawan dan para penerus perjuangan mereka.

Renungan ini ditulis kiranya menjadi sepercik harapan untuk menghias hening sejenak dipagi hari di 10 November 2015 jam 08;15

Penulis adalah Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum Islam Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung